Nasehat Bagi Hati Yang Bersabar Menjaga Diri


lonely
By: Aby A. Izzuddin.
Di usiaku ini, maafkan, aku tidak sedang mencari rasa, aku sedang mencari surga. Bergandengan dengan jemari taqwa, melangkah dalam ayunan cinta.

Di usiaku ini, maafkan, aku tidak sedang mencari mahabbah, aku sedang mencari sakinah; melukis mawaddah dalam kanvas barakah.

Jadi, maafkan, aku bukan untuk memacari, aku untuk menikahi. Sebab itulah cara mulia mencintai. :')

Percayalah... suatu saat kamu akan mengalami pertemuan yang indah, setelah sekian lama mengalami perpisahan yang pahit.

Percayalah... suatu saat kamu akan merasakan kesetiaan mesra, setelah sekian lama merasakan penghianatan pedih.

Percayalah... suatu saat kamu akan menikmati hangatnya kebersamaan, setelah sekian lama menikmati sepinya kesendirian.

Selalulah percaya, seperti malam yang selalu percaya bahwa fajar pasti datang. Seperti hujan yang selalu percaya bahwa rintikannya pasti reda. Seperti aku dan kamu, yang selalu dan harus selalu percaya bahwa suatu saat akan menjadi kita. :)

Kenangan itu tidak akan pergi. Masa lalu tak akan beranjak barang sesenti pun dari pikiran kita.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?
Sederhana, hampiri dia dengan senyum termanis. Sapa dia dengan ucapan tersantun. Namun jangan lupa, kita menghampiri dan menyapanya tidak sendirian, tapi dengan menggandeng seseorang yang jauh lebih baik darinya.

Jangan terlalu memikirkan jodoh dan rezeki. Itu adalah sesuatu yang tak pasti. Memikirkannya perlu, tapi sekali lagi jangan terlalu.

Pikirkanlah sesuatu yang pasti. Apa? Kematian. Dan pahamilah bahwa kematian itu datang tak perlu menunggu sakit atau tuamu, ia pasti datang tanpa mengetuk pintu.

Kepada wajah yang senantiasa tertunduk, menjaga pandangannya dari tatapan yang tidak halal. Kepada hati yang senantiasa terjagakan, tak mudah dibelai oleh tukil senyuman. Kepada rasa yang tersimpan rapi dalam dada, tak tercecer di beranda dalam bentuk kata.

Percayalah, tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Seperti shaum, kenikmatan itu ada sebab lama bersabar lalu berbuka dengan cicipan amat nikmat di waktu senja. Maka, begitupun dengan kesendirianmu. Bersabarlah sejenak, sampai kumandang taqdir-Nya bergema melantunkan suara cinta.

Duhai, bukankah surga mengucapkan salam untuk ia yang bersabar?



Artikel Terkait

Terimakasih telah membaca artikel ini, semoga bermamfaat. Komentar yang membangun dan bersifat positif anda sangat diharapkan.
EmoticonEmoticon