Pemikiran filsafat imam al-Ghazali r.a


Perjalanan imam Ghazali r.a

Al-Ghazali r.a merupakan seorang yang berjiwa besar dalam memberikan pencerahan-pencarahan dalam Islam. Beliau selalu hidup berpindah-pindah untuk mencari suasana baru, tetapi khususnya untuk mendalami pengetahuan. Dalam kehidupannya, ia sering menerima jabatan di pemerintahan, mengenai daerah yang pernah beliau singgahi  dan terobosan yang beliau lakukan antara lain:
  • Ketika di Baghdad, beliau pernah menjadi guru besar di perguruan Nidzamiyah selama 4 (empat) tahun.
  • beliau meninggalkan kota Baghdad untuk berangkat ke Syam, di Syam beliau menetap hampir 2 (dua) tahun untuk berkhalwat melatih dan berjuang keras membersihkan diri, akhlak, dan menyucikan hati hati dengan mengingat Tuhan dan beri’tikaf di mesjid Damaskus.
  • Kemudian beliau menuju ke Palestina untuk mengunjungi kota Hebron dan Jerussalem, tempat di mana para Nabi sejak dari Nabi Ibrahim sampai Nabi Isa mendapat wahyu pertama dari Allah.
  • Tidak lama kemudian ia meninggalkan Palestina dikarenakan kota tersebut di kuasai Tentara Salib, terutama ketika jatuhnya kota Jerussalem pada tahun 492 H/1099 M, lalu iapun berangkat ke Mesir, yang merupakan pusat kedua bagi kemajuan dan kebesaran Islam sesudah Baghdad.
  • Dari Palestina & (Kairo), iapun melanjutkan perjalanannya ke Iskandariyah. Dari sana ia hendak berangkat ke Maroko untuk memenuhi undangan muridnya yang beranama Muhammad bin Taumart (1087-1130 M), yang telah merebut kekuasaanya  dari tangan kaum Murabithun, dan mendirikan pemerintahan baru yang bernama Daulah Muwahhidun. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi memenuhi undangan ke Maroko, ia tetap tinggal di Mekkah, ia  berasalan untuk melaksanakan kewajiban yang ke lima dalam rukun Islam, yakni melaksanakan ibadah haji, kemudian ia menziarahi kuburan Nabi Ibrahim.
  • Selanjutnya ia kembali ke Naisabur, di sana ia mendirikan Madrasah Fiqh, madrasah ini khusus untuk mempelajari ilmu hukum, dan membangun asrama (khanqah) untuk melatih Mahasiswa-mahasiswa dalam paham sufi di tempat kelahirannya.[1]

Karya-Karya Al-Ghazali

Sebagai seorang ulama dan pemikir dalam dunia Islam, tentunya ia sangat tekun untuk menulis kitab. Jumlah kitab yang ditulis al-Ghazali sampai sekarang belum disepakati secara definitif oleh para penulis sejarahnya. Menurut Ahmad Daudy, penelitian paling akhir tentang berapa jumlah buku yang dikarang oleh al-Ghazali seperti halnya yang dilakukan oleh Abdurrahman Al-Badawi, yang hasilnya dikumpulkan dalan satu buku yang berjudul Muallafat Al-Ghazali.Dala buku tersebut, Abdurrahman mengklasifikasikan kitab-kitab yang ada hubungannya dengan karya al-Ghazali dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok kitab yang dapat dipastikan sebagai karya al-Ghazali yang terdiri atas 72 buah kitab. Kedua, kelompok kitab yang diragukan sebagai karyanya yang asli terdiri atas 22 kitab. Ketiga, kelompok kitab yang dapat dipastikan bukan karyanya, terdiri atas 31 buah kitab.[2]

Mengenai kitab-kitab yang ditulis oleh al-Ghazali meliputi bidang ilmu yang populer pada zamannya, di antaranya tentang tafsir al-Qur’an, ilmu kalam, ushul fiqh, fiqih, tasawuf, mantiq, falsafat, dan lainnya.
  • Ihya Ulum Ad-Din (membahas ilmu-ilmu agama)
Ini merupakan kitab paling terkenal yang dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara syam, Yerussalem, Hijaz dan Yus, dan yang berisi paduan indah antara fiqh, tasawuf dan falsafat, bukan saja terkenal di kalangan kaum muslimin, tetapi juga di dunia Barat dan luar Islam.
  • Tahafut al-Falasifah (menerangkan pendapat para filsuf ditinjau dari segi agama).
  • Al-Munqidz min adh-Dhalal (menerangkan tujuan dan rahasia-rahasia ilmu).
  • Al-Iqtashad fi Al-‘Itiqad (inti ilmu ahli kalam),
  • Jawahir Al-Qur’an (rahasia-rahasia yang terkandung dalam al-Qur’an),
  • Mizan Al-‘Amal (tentang falsafah keagamaan),
  • Al-Maqasshid Al-Asna fi Ma’ani Asma’illah Al-Husna (tentang arti nama-nama Tuhan),
  • Faishal At-Tafriq Baina Al-Islam Wa Al-Zindiqah (perbedaan antara Islam dan Zindiq),
  • Al-Qisthas Al-Mustaqim (jalan untuk mengatasi perselisihan pendapat).
  • Al-Mustadhhir,
  • Hujjat Al-Haq (dalil yang benar),
  • Mufahil Al-Khilaf fi Ushul Ad-Din (menjauhkan perselisihan dalam masalah ushul ad-din),
  • Kimiya As-sa’adah (menerangkan syubhat ahli ibadah),
  • Al-Basith (fiqh),
  • Al-Wasith (fiqh),
  • Al-Wajiz (fiqh),
  • Al-Khulasahah Al-Mukhtasharah (fiqh),
  • Yaqut At-Ta’wil fi Tafsir At-Tanzil (tafsir 40 jilid),
  • Al-Mustasfa (ushul fiqh),
  • Al-Mankhul (ushul fiqh),
  • Al-Muntaha fi ‘ilmi Al-Jadal (cara-cara berdebat yang baik),
  • Mi’yar Al-‘ilmi,
  • Al-Maqashid (yang dituju),
  • Al-Madnun bihi ’ala Ghairi Ahlihi,
  • Misykat Al-anwar (pelajaran keagamaan),
  • Mahku An-Nadhar,

Pemikiran Filsafat Imam Al-Ghazali

Mempergunakan akal semata-mata dalam soal ketuhanan adalah seperti mempergunakan alat yang tidak mencukupi kebutuhan.

Mengenai kejadian alam dan dunia, Al-Ghazali berpendapat bahwa dunia itu berasal dari iradat (kehendak) tuhan semat-mata, tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Iradat tuhan itulah yang diartikan penciptaan. Iradat itu menghasilkan ciptaan yang berganda, di satu pihak merupakan undang-undang, dan di lain pihak merupakan zarah-zarah (atom-atom) yang masih abstrak. Penyesuaian antara zarah-zarah yang abstrak dengan undang-undang itulah yang merupakan dunia dan kebiasaanya yang kita lihat ini.

Iradat tuhan adalah mutlak, bebas dari ikatan waktu dan ruang, tetapi dunia yang diciptakan itu seperti yang dapat ditangkap dan dikesankan pada akal (intelek) manusia, terbatas dalam pengertian ruang dan waktu. Al-Ghazali menganggap bahwa tuhan adalah transenden, tetapi kemauan iradatnya imanen di atas dunia ini, dan merupakan sebab hakiki dari segala kejadian.[3]

Pengikut Aristoteles, menamakan suatu peristiwa sebagai hukum pasti sebab dan akibat (hukum kausalitas), sedangkan Al-Ghazali seperti juga Al-Asy’ari berpendapat bahwa suatu peristiwa itu adalah iradat Tuhan, dan Tuhan tetap bekuasa mutlak untuk menyimpangkan dari kebiasaan-kebiasaan sebab dan akibat tersebut. Sebagai contoh, kertas tidak mesti terbakar oleh api, air tidak mesti membasahi kain. Semua ini hanya merupakan adat (kebiasaan) alam, bukan suatu kemestian. Terjadinya segala sesuatu di dunia ini karena kekuasaan dan kehendak Allah semata. Begitu juga dengan kasus tidak terbakarnya Nabi Ibrahim ketika dibakar dengan api. Mereka menganggap hal itu tidak mungkin, kecuali dengan menghilangkan sifat membakar dari api ituatau mengubah diri (zat) Nabi Ibrahim menjadi suatu materi yang tidak bisa terbakar oleh api.[4]

Mengenai filsafat etika Al-Ghazali secara sekaligus dapat kita lihat pada teori tasawufnya dalam buku Ihya’ ‘Ulumuddin. Dengan kata lain, filsafat etika Al-Ghazali adalah teori tasawufnya itu.

Sesuai dengan prinsip Islam, Al-Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan rahmat (kebaikan) bagi sekalian alam. Berbeda dengan prinsip filsafat klasik Yunani yang menganggap bahwa Tuhan sebagai kebaikan yang tertinggi, tetapi pasif menanti, hanya menunggu pendekatan diri dari manusia, dan menganggap materi sebagai pangkal keburukan sama sekali.

Al-Ghazali sesuai dengan prinsip Islam, mengakui bahwa kebaikan tersebar di mana-mana, juga dalam materi. Hanya pemakaiannya yang disederhanakan, yaitu kurangi nafsu dan jangan berlebihan.

Bagi Al-Ghazali, tasawuf bukanlah suatu hal yang berdiri sendiri terpisah dari syari’at, hal ini nampak dalam isi ajaran yang termuat dalam kitab Ihya’nya yang merupakan perpaduan harmonis antara fiqh, tasawuf dan ilmu kalam yang berarti kewajiban agama haruslah dilaksanakan guna mencapai tingkat kesempurnaan. Dalam melaksanakan haruslah dengan penuh rasa yakin dan pengertian tentang makna-makna yang terkandung di dalamnya.[5]

Ia menentang dan memerangi filsafat yang salah. Tentangan yang di lontarkan al-Ghazali ini tercermin dari bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifah, yakni sebagai berikut :

”...sumber kekufuran manusia pada saat itu adalah terpukau dengan nama-nama filsuf besar seperti Socrates, Epicurus, Plato, Aristoteles dan lain-lainnya ..., mereka mendengar perilaku pengikut filsuf dan kesesatannya dalam menjelaskan intelektualitas dan kebaikan prinsip-prinsipnya, ketelitian ilmu para filsuf di bidang geometri, logika, ilmu alam, dan telogi ..., mereka mendengar bahwa para filsuf itu mengingkari semua syari’at dan agama, tidak percaya pada dimensi-dimensi ajaran agama. Para filsuf menyakini bahwa agama adalah ajaran-ajaran yang disusun rapi dan tipu daya yang dihiasi keindahan ...”[6]

Jikalau melihat ungkapan di atas, terlihat bahwa al-Ghazali lebih tepat digolongkan dalam kelompok pembangunan agama yang jalan pemikirannya didasarkan pada sumber ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Apabila memakai sumber lain dari Islam maka sumber-sumber ini hanya dijadikan sebagai alat untuk maksud menghidupkan ajaran-ajaran agama dan untuk membantu menerangi jalan menuju Allah SWT. Hal ini dikuatkan dengan kitabnya Ihya’Ulum Ad-din. Dalam buku Tahafut al-Falasifah al-Ghazali juga diterangkan tentang keremehan pemikiran-pemikiran filsafat. Sehingga apakah mungkin filsafat justru menghukumi atas dirinya sendiri? Al-Ghazali dengan beberapa kali menyatakan, bahwa tujuan penyusunan buku tersebut untuk menghancurkan filsafat dan menggoyahkan kepercayaan orang terhadap filsafat yang salah.[7]
Kemudian al-Ghazali menjelaskan lagi, dari 20 masalah tersebut ada tiga hal yang bisa menyebabkan seorang filosof itu menjadi kafir, antara lain :

Alam semesta dan semua substansi qadim ?

Para filosof muslim di kala itu mengatakan bahwa alam ini qadim. Sebab qadimnya Tuhan atas alam sama halnya dengan qadimnya illat atas ma’lulnya (ada sebab akibat), yakni dari zat dan tingkatan, juga dari segi zaman. Alasan dari para filosof itu adalah tidak mungkin wujud yang lebih dahulu, yaitu alam, keluar dari yang qadim (Tuhan), karena dengan demikian berarti kita bisa membayangkan bahwa yang qadim itu sudah ada, sedangkan alam belum ada.

Menurut al-Ghazali, bila alam itu dikatakan qadim (tidak mempunyai permulaan atau tidak pernah ada) maka mustahil dapat dibayangkan bahwa alam itu diciptakan oleh Tuhan. Jadi, paham qadimnya alam membawa pada kesimpulan bahwa alam itu ada dengan sendirinya. Tidak diciptakan Tuhan dan ini berarti bertentangan dengan ajaran al-Qur’an yang jelas menyatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan segenap alam (langit, bumi, dan segala isinya). Bagi al-Ghazali, alam haruslah tidak qadim dan ini berarti pada awalnya Tuhan ada, sedangkan alam tidak ada, kemudian Tuhan menciptakan alam maka alam ada di samping adanya Tuhan.[8]

Al-Ghazali juga menjawab argumen filosof-filosof mulsim itu. Katanya; tidak ada halangan apa pun bagi Allah menciptakan alam sejak azali dengan iradah-Nya yang qadim pada waktu diadakan-Nya. Sementara itu, ketiadaan wujud alam sebelumnya karena memang belum dikehendaki-Nya. Iradah menurut al-Ghazali adalah suatu sifat bagi Allah berfungsi membedakan (memilih) sesuatu dari lainnya yang sama. Jika tidak demikian fungsinya, tentu bagi Allah cukup saja dengan sifat qudrat. Akan tetapi, karena sifat qudrat antara mencipta dan tidaknya sama kedudukannya, harus ada suat sifat khusus yang membedakannya, yaitu sifat iradah. Andaikata para filosof Muslim menganggap sifat tersebut tidak tepat disebut sebagai iradah, dapat diberi nama lain asal itu yang dimaksud atau dengan arti sama. Sekedar istilah tidak perlu diperdebatkan, yang penting adalah isinya.[9]

Apakah yang menjadi landasan berpikir al-Ghazali sehingga mengatakan bahwa alam itu tidak qadim dan Tuhan yang qadim. Kerangka filosofis yang ia tawarkan adalah titik tolak yang benar dan ortodoks harus diawali dengan mengakui Tuhan sebagai wujud tertinggi dan kehendak unik yang bertindak secara aktual. ”Prinsip Pertama adalah Maha Mengetahui, Maha Perkasa, dan Maha Berkehendak. Ia bertindak sekehendak-Nya dan menentukan sesuatu yang ia kehendaki; ia menciptakan semua makhluk dan alam sebagaimana ia kehendaki dan dalam bentuk yang Dia kehendaki”.[10]

Tuhan tidak mengetahui yang juz’iyyat (hal-hal yang terperinci/kecil) yang terjadi di alam ?

Sebuah pemahaman bahwa Tuhan tidak mengetahui juz’iyyat (hal-hal yang sifatnya terperinci/kecil), bukanlah sebuah pemahaman yang dianut oleh para filosof Muslim. Sedangkan pemahaman yang banyak digunakan filosof Muslim itu adalah pemahaman yang dianut oleh Aristoteles. Menurut al-Ghazali para filosof Muslim itu mempunyai pemahaman bahwa Allah sebagai Tuhan umat Muslim hanya mengetahui zat-Nya sendiri dan tidak bisa mengetahui yang selain-Nya.

Pendapat para filosof Muslim ini di jawab oleh al-Ghazali. Al-Ghazali mengatakan bahwa para filosof itu telah melakukan kesalahan fatal. Menurut al-Ghazali lebih lanjut adalah sebuah perubahan pada objek ilmu tidak membawa perubahan pada ilmu. Karena ilmu berubah tidak membawa perubahan pada zat, dalam artian keadaan orang yang mempunyai ilmu tidak berubah. Kemudian al-Ghazali memberikan sebuah ilustrasi, bila seseorang berada di sebelah kanan Anda, lalu orang itu berpindah kesebelah kiri Anda, kemudian berpindah lagi kedepan atau kebelakang, maka yang berubah adalah orang itu, bukanya Anda. Ia mengetahui segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang satu (Esa) semenjak azali dan tidak berubah meskipun alam yang diketahui-Nya itu mengalami perubahan.[11]

Untuk memperkuat argumennya, al-Ghazali mengeluarkan dalil-dalil al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah Maha Tahu segalanya, baik yang besar atau yang kecil.

Dalil pertama:

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَلا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْبَرَ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya: ”Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”(Q.S. Yunus: 61)

Dalil kedua :

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Artinya:”Katakanlah: "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu?"(Q.S. Al-Hujurat: 16).

Dalam ayat ini jelaslah bahwa Allah Maha Tahu atas segala sesuatu. berbeda dengan Ibnu Rusyd yang mengatakan Tuhan hanya tahu yang universal, bukan perkara yang kecil (partikular).  Tudingan al-Ghazali ini berbentuk sebuah ucapan seperti di bawah ini :

Yang menjadi persoalan adalah pernyataan mereka (para filsafat) ”Tuhan yang Maha Mulia mengetahui hal-hal yang bersifat universal, tetapi tidak hal-hal yang bersifat partikular” pernyataan ini jelas-jelas telah menyelewengkan dalil-dalil di atas, ini menunjukkan ketidak berimanannya mereka. Maka yang benar adalah ”tidak ada sebutir atom pun di langit maupun di bumi yang luput dari pengetahuan-Nya.” [12]

Kalau dilihat pendapat Ibnu Rusyd maka akan berlawanan, menurut Ibnu Rusyd; pengetahuan Allah tidak dapat dikatakan juz’i (parsial) dan kully (umum). Juz’i adalah satuan yang ada di alam yang berbentuk materi dan materi hanya bisa ditangkap dengan pancaindera. Kully, mencakup berbagai jenis (nu’). Kully bersifat abstrak, hanya dapat diketahui melalui akal. Allah bersifat imateri (rohani), tentu saja pada zat-Nya tidak terdapat pancaindera untuk mengetahui yang parsial. Oleh karena itu, kata Ibnu Rusyd, tidak ada para filosof muslim yang mengatakan ilmu Allah bersifat juz’i dan kully.[13]

Pembangkitan Jasmani Tidak Ada ?

Banyak dari para filosof berpendapat bahwa yang akan dibangkitkan nantinya di alam akhirat adalah rohani semata, sedangkan jasmani (jasad) akan hancur. Maka dari itu, ketika di akhirat nanti, tentang adanya kebahagiaan ataupun kepedihan di sana yang dapat merasakan adalah rohani. Sedangkan jasmani (jasad) merasakan kebahgiaan dan kepedihan hanya saat di dunia saja.

Kesesuaian suasana rohani maka ketika dibangkitkan nanti saat di akhirat bersifat rohani pula. Akan tetapi, kebangkitan jasmani tidak sampai ke akhirat atau dikembalikan. Dalam mengulas alasan-alasan, mereka mengemukakan bahwa pengembalian jasad memiliki tiga kemungkinan. Pertama, manusia terdiri atas badan dan kehidupan, ini sama halnya seperti dikatakan oleh sebagian ulama kalam, sedangkan jiwa berdiri dengan sendirinya dan yang mengatur badan tidak ada wujudnya. Pengertian mati berarti terputus hidup, yakni Tuhan tidak lagi menciptakan hidup, oleh karena itu hidup ini tidak ada, dan badan tidak ada pula. Jadi, arti kebangkitan adalah bahwa Tuhan mengembalikan badan yang sudah tidak ada karena mati kepada wujudnya, dan mengembalikan hidupnya yang sudah tidak ada. Dalam perkataan lain, badan manusia setelah menjadi tanah dikumpulkan dan disusun kembali menurut bentuk manusia dan diberikan hidup kepadanya. Kedua, atau dikatakan bahwa jiwa (roh) manusia tetap wujud sesudah mati, tetapi badan yang pertama (yang terjadi di dunia ini) nantinya dikembalikan lagi dengan anggota-anggota badannya sendiri dengan lengkap. Ketiga, atau dikatakan, jiwa manusia dikembalikan kepada badan, baik badan dengan anggota-anggotanya yang semula ataupun badan yang lain samasekali. Jadi, yang dikembalikan ialah manusianya, sebab badannya (bendanya) tidak terpenting, sedangkan manusia disebut karena jiwanya (rohnya), bukan karena bendanya (badannya).[14]

Atas dasar ini, para filosof muslim ini berpendapat bahwa mustahil mengembalikan rohani kepada jasad ketika keduanya telah berpisah. Menurut mereka, setelah berpisah antara roh dengan jasad, berarti kehidupan  telah berakhir dan tubuh menjadi hancur. Penciptaan kembali berarti penciptaan baru yang tidak sama dengan yang berlalu. Pengandaian hal ini berarti mengimplikasikan qadimnya suatu hal dan baharunya hal yang lain. Akan tetapi, jika diandaikan terjadi kebangkitan jasad, maka akan menempuh jalan yang sulit dan membutuhkan pemikiran yang panjang, seperti adanya manusia pincang, manusia buta, dan lainnya. Kalau ini yang terjadi maka di surga nantinya akan ada sidat kekurangan dan ada pula satu jiwa dengan dua tubuh atau sebaliknya. Sesungguhnya di surga yang suci tidaklah demikian. Jika demikian terjadilah proses  yang panjang, seperti panjangnya proses kapas hingga menjadi kain.[15]

Menurut al-Ghazali, berdasarkan gambaran al-Qur’an dan al-Hadits Nabi Muhammad SAW. Tentang kehidupan di akhirat bukanlah mengacu pada kehidupan rohani saja. Tetapi pada kehidupan rohani dan jasmani. Jasad dibangkitkan dan disatukan dengan jiwa-jiwa manusia yang pernah hidup di dunia untuk merasakan nikmat surgawi yang bersifat rohani-jasmani. Kehidupan di surga dan neraka yang bersifat rohani-jasmani itu, menurut al-Ghazali, bukanlah kehidupan di surga dan neraka bersifat rohaniah saja, menurut al-Ghazali adalah pemahaman yang mengingkari adanya kebangkitan jasad di hari akhirat. Pemahaman demikian, menurutnya bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh al-Qur’an dan al-Hadits, karena itu dikufurkannya. Al-Ghazali berpandangan bahwa yang akan dibangkitkan itu adalah jasmani. Ini terbukti dengan perkataannya :

”... adalah bertentangan dengan seluruh keyakinan seorang Muslim, keyakinan mereka yang mengatakan bahwa badan jasmani manusia tidak akan dibangkitkan pada hari kiamat, tetapi hanya jiwa yang terpisah dari badan yang akan diberi pahala dan hukuman, dan pahala atau hukuman itu pun akan bersifat spritual dan bukannya bersifat jasmaniah. Sesungguhnya, mereka itu benar di dalam menguatkan adanya pahala dan hukuman yang bersifat spritual karena hal itu memang ada secara pasti; tetapi secara salah, mereka menolak adanya pahala dan hukuman yang bersifat jasmaniah dan mereka dikutuk oleh hukum yang telah diwahyukan dalam pandangan yang mereka nyatakan itu.”[16]

Dalam bukunya Tahafut al-Falasifah al-Ghazali juga mengatakan; banyak hadits yang mengatakan bahwa roh-roh manusia merasakan adanya kebaikan atau siksa kubur dan lainnya. Semua ini sebagai indikasi adanya kekekalan jiwa. Sedangkan kebangkitan jasmani secara eksplisit telah ditegaskan dalam syara’, yakni berarti jiwa dikembalikan pada tubuh, baik tubuh semula maupun tubuh yang lain, atau tubuh yang baru dijadikan. Ini dikarenakan tubuh manusia dapat berganti bentuk, seperti dari kecil menjadi besar, kurus menjadi gemuk, dan seterusnya. Namun, hal yang terpenting ada satu tubuh berbentuk jasmani yang dapat merasakan kepedihan dan kebahagiaan. Allah Mahakuasa menciptakan segala sesuatu. dan dengan KeMahakuasaan-Nya tidak merasa sulit bagi-Nya menjadikan setetes sperma menjadi aneka macam organ tubuh, seperti tulang, daging, kulit, urat saraf, otoit, lemak, dan sebagainya. Dari hasil ini detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Akhirnya menjadi mata, gigi, perasaan yang berbeda antara setiap manusia. Justru itu, Allah jauh lebih mudah mengembalikan rohani pada badan (jasmani) di akhirat ketimbang penciptaan-Nya pertama kali.[17]

Sungguh pertentangan antara al-Ghazali dengan filosof Muslim kalau di kaji secara mendalam, maka pertentangan tersebut hanya sebuah perbedaan Interprestasi  karena bedanya titik pijak. Al-Ghazali seorang teolog al-Asy’ari, ia aktif mengembangkan Asy’arisme selama delapan tahun (1077-1085) pada Universitas Nizhamiyah Baghdad, tentu saja pemikirannya dipengaruhi oleh aliran ini, yakni dengan kekuasaan kehendak mutlak Tuhan dan interprestasinya tidak seliberal para filosof. Sementara itu, pemikiran para filosof Muslim dipengaruhi oleh pemikiran rasional, tentu saja interprestasi mereka lebih liberal dari al-Ghazali. Namun, antara kedua pihak sependapat bahwa di akhirat nanti ada kebangkitan.[18]

Pandangannya terhadap Ilmu

Ilmu merupakan sumber kebutuhan bagi setiap manusia, karena tanpa ilmu manusia akan bodoh dan tidak mengetahui arah hidup dalam prikehidupan. Sebagai seorang ilmuwan besar, Al-Ghazali berupaya membuat sebuah karya-karya tulis yang bersifat memotivasi seseorang untuk selalu menggali ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama. Di dalam karyanya al-Ghazali yang berjudul Ihya Ulum Ad Din yang artinya menghidupkan ilmu-ilmu agama. Ini merupakan sebuah karya al-Ghazali yang banyak dipakai oleh para ulama-ulama kalam sebagai bahan kajian untuk amalan-amalan baik manusia. Karena di dalam buku itu banyak menjelaskan tentang ilmu-ilmu keagamaan Islam, ke-Esaan Allah, dan ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan syari’at.

Pada karyanya yang lain, dan juga terkenal di tengah masyarakat yang berjudul Al Munqiz min Ad Dhalal Al-Ghazali berpendapat bahwa :

”ilmu hati merupakan konsekuensi logis bagi ilmu-ilmu manusia, karena ada dua alam, yakni alam lahir dan alam bathin. Jika ilmu-ilmu (pengetahuan) menguasai ilmu lahir dengan analisa dan keterangan, maka harus ada ilmu khusus untuk menjelaskan ilmu bathin. Pengetahuan-pengetahuan itu sendiri ada dua, yaitu inderawi dan sufi (lahir dan bathin). Sarana untuk mengenal pengetahuan-pengetahuan lahir adalah panca indera, sedang metoda untuk mencapai pengetahuan-pengetahuan bathin harus kembali kepada mereka (kaum sufi) yang mengatakan bahwa kesederhanaan, zuhud, dan amal-amal praktis seluruhnya adalah jalan untuk mempersepsi berbagai realitas yang tersembunyi dan ilham yang melampaui penglihatan dan pendengaran. Maka ma’rifat adalah tujuan yang luhur bagi tasawuf. Al-Ghazali menentang kesatuan antara manusia dengan Tuhan (teori Al Ijtihad) karena bertentangan dengan ajaran agama.”[19]

Di lain karyanya yang berjudul The Juwels of the Qur’an (mutiara al-Qur’an) dan Mizan Al-Amal (timbangan amal), al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu menjadi empat bagian :

1. Pembagian ilmu-ilmu menjadi bagian teoritis dan praktis.

2. Pembagian pengetahuan menjadi pengetahuan yang dihadirkan (hudhuri) dan pengetahuan yang dicapai (hushuli).

3. Pembagian atas ilmu-ilmu religius (sya’iyyah) dan intelektual (aqliyah).

4. Pembagian ilmu menjadi ilmu-ilmu fardhu’in (wajib atas setiap individu) dan fardhu kifayah (wajib atas umat).

Baca juga : 16 nasehat bijak ulama

DAFTAR  PUSTAKA

Al-Ghazali, Mukasyafatul Qulub (Rahasia Ketajaman Mata Hati), Surabaya: Terbit Terang, t.t

----------------, Al-Munqiz min al-Dhalal, terj. Abdullah bin Nuh, Jakarta: Tinta Mas, 1960

----------------, Al-Munqiz min al-Dhalal, terj.Abdullah bin Nuh, Jakarta: Tinta Mas, 1960

-----------------, lihat “Muqaddimah” kitab Tahafut Al-Falasifah, Tahkik Sulaiman Dunya, Kairo: Dar al-Ma’arif, 1928

Ahmad, Zainal Abidin, Riwayat Hidup Al-Ghazali, Jakarta: Bulan Bintang, 1975

A. Hanafi, Antara Imam Al-Ghazali dan Imam Rusyd Dalam Tiga Metafisika, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1981

Abdullah, M. Amin, Studi Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996

A. Mustofa, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1999

Daudy, Ahmad, Kuliah Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1986

Nasution, Harun,  Akal dan Wahyu Dalam Islam, Jakarta: Universitas Indonesi, 1983

Rusyd, Ibnu,  Tahafut al-Tahafut, Tahkik, Sulaiman Dunya, Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971

Supriyadi, Dedi, Pengantar Filsafat Islam Konsep, Filosof dan Ajarannya, Bandung: Pustaka Setia, 2009

Poerwantana, dkk, Seluk Beluk Filsafat Islam, Bandung: CV ROSDA, 1988

Zar, Sirajuddin,  Filsafat Islam filosof dan filsafatnya, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004

Catatan kaki :

[1] Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Al-Ghazali…,  hal.10

[2] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hal.97

[3] Poerwantana, dkk, Seluk Beluk Filsafat Islam, (Bandung: CV ROSDA, 1988), hal. 172.

[4] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 176

[5] M. Amin Abdullah, Studi Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hal.280.

[6] Al-Ghazali, lihat “Muqaddimah” kitab Tahafut Al-Falasifah, Tahkik Sulaiman Dunya, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1928), hal.1

[7] H. A. Mustofa., Filsafat Islam … , hal.215

[8] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam ..., hal. 162

[9] A. Hanafi, Antara Imam Al-Ghazali dan Imam Rusyd Dalam Tiga Metafisika,  (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1981), hal. 29

[10] Al-Ghazali, Tahafut Al-Falasifah …, hal. 131

[11] Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah …, hlm. 206-207

[12] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam … , hlm.171

[13] Ibnu Rusyd, Tahafut al-Tahafut, Tahkik, Sulaiman Dunya, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971),  hal. 700-703

[13]  A. Mustofa, Filsafat Islam … , hlm. 237-238

[14] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam … , hlm. 172

[15] Al-Ghazali, Al-Munqiz min al-Dhalal, terj. Abdullah bin Nuh, (Jakarta: Tinta Mas, 1960), hlm. 129

[16] Ibnu Rusyd, Tahafut al-Tahafut …, hlm. 287-290

[17] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam … , hlm. 173

[18] Al-Ghazali, Al-Munqiz min al-Dhalal, terj.Abdullah bin Nuh, ( Jakarta: Tinta Mas, 1960), hal. 205

[19] A. Mustofa, Filsafat Islam … , hlm. 237-238

Source : https://syafieh.blogspot.com/2013/04/filsafat-islam-al-ghazali-dan-pemikiran.html

Mengatasi file tersembunyi di flashdisk

usb virus
Banyak yang sudah mengalami hilangnya data penting yang tersimpan di flashdisk. Banyak penyebabnya. Penyebab yang paling sering terjadi adalah virus. Virus tersebar karena flashdisk dimasukkan ke laptop yang sudah terjangkiti virus USB tersebut.

USB Virus
Contoh flashdik yang sudah terjangkiti virus tersebut

Terkadang ada kasus data di flashdisk anda hilang karena virus. Banyak cara membalikkan datanya kembali. Bisa menggunakan software maupun secara manual. Cara yang dbagikan disini cara yang paling mudah dipraktekkan tanpa harus mendownload softwarenya dulu.

Ikuti langkah-langkahnya :
  • Buka notepad di PC anda
  • Ketikkan "attrib -s -h *.* /s /d" tanpa tanda kutip
  • simpan di PC anda. Terserah mau diletakkan dimana. Format penyimpanannya Save as type : all files. Untuk file namenya terserah yang penting jangan lupa di tulis ".bat" diujungnya (simpan dalam format bat). Untuk lebih jelasnya lihat di gambar dibawah.
USB
  • Save.
  • Masukkan flashdisk yang data didalamnya tersembunyi oleh virus.
  • Pindahkan file yang disimpan tadi kedalam flashdisk.
  • Jalannya file aaa.bat yang disimpan tadi.
  • Tunggu beberapa saat maka akan muncul folder tanpa nama yang isinya semua data di flashdisk yang tersembunyi.

Bolehkah membaca Al-Quran di kuburan ?

mengaji dikuburan

Banyak yang menjadi perbincangan dikalangan masyarakat tentang mengaji dikuburan. Bolehkah ? Bid'ahkah ? Adakah dalilnya ?

Simaklah beberapa dalil dibawah yang berhubungan dengan mengaji dikuburan.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata : "Ada sebagian sahabat Rasulullah SAW yang membuat tenda (kemah) di atas kuburan, ia tidak tahu kalau tempat itu adalah kuburan. Ternyata disitu ada seseorang yang sedang membaca Al-Quran surat Al-Mulk sampai selesai. Lalu ia mendatangi Rasulullah SAW dan mengabarkan kejadian tersebut kepada beliau, lalu Rasulullah SAW bersabda : "Itu adalah surat yang bisa mencegah dan menyelamatkan pembacanya dari siksa kubur". [HR. Attidmidzi, beliau mengatakan hadits ini Hasan].

Imam An Nawawi mengomentari hadits diatas :
Tentunya sahabat Ibnu Umar RA lebih paham daripada kita dalam soal ini, makanya tidaklah heran kalau kemudian beliau memerintahkan untuk membacakan Al-Quran setelah mayyit di kubur (dikuburan) [Al Adzkaar, 135].

Rasulullah sama sekali tidak mengingkari perbuatan yang diceritakan oleh para sahabat yang disebutkan di hadits diatas, malahan menerangkan tentang keutamaan surat Al-Mulk. Bukanlah sunnah itu adalah perkataan , perbuatan, (diam) setujunya Nabi atas perbuatan yang terdapat pada hadits di atas ?

Syaikh Abdul Wahhab As-Sya’rani dalam Mukhtasar Tadzkirah al-Qurthubi (hal-25) bercerita tentang Imam Ahmad bin Hanbal yang berkata “Jika kalian masuk ke kuburan, maka bacalah surat al-Fatihah, al-Mu’awwidzatain dan Qulhuwallaahu Ahad ...".

Pada awalnya Imam Ahmad mengingkari hukum membaca Al Qur'an dikuburan tetapi setelah mengetahui adanya riwayat yang dapat dipercaya tentang wasiat Ibnu Umar agar di bacakan akhir dari Surat Al Baqarah dikuburnya setelah wafatnya, maka Imam Ahmad Membolehkan membaca Al Qur'an di kuburan [Riwayat wasiyat Abdullah bin Umar tersebut adalah shahih. Lihat kitab Manhaj as-Salaf hlm. 385].

Bahkan Ibnu Qayyim juga mendukung & dalam kitabnya ar-Ruh hal 10 : "Doa itu mustajab (bila dibaca) di sisi makam para Nabi dan wali, juga di beberapa tempat yang lain...,". [al-Hafidz adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ 17/77].

Syafi'iyah berkata: Disunnahkan membaca sebagian dari Al-Quran di dekat kuburnya. Mereka berkata: Jika mereka mengkhatamkan al-Quran keseluruhan, maka hal itu dinilai bagus" [al-Adzkar I/162 dan al-Majmu' V/294].

Tidaklah semata-mata mayat di alam kubur melainkan laksana orang yang sedang tenggelam yang minta bantuan, mereka menanti do’a (pahala) yang dilakukan orang hidup yang disampaikan kepadanya, baik dari bapak, ibu, saudara atapun kawan.

Apabila ada do’a dan pahala kebaikan dikirimkan kepadanya maka itulah yang mereka sukai daripada dunia beserta isinya. Sesungguhnya Allah akan memasukkan kepada penghuni kubur daripada do’a-do’a penghuni bumi seperti gunung kebaikan, sesungguhnya pemberian hadiah orang hidup terhadap orang mati ialah memohonkan ampunan untuk mereka. [(HR Al-Baihaqi, Ad-Daelami) Sumber: Kitab Syu’bul-Iman Al-Imam Al-Baihaqi]

Kesimpulan
Dari dalil-dalil diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa bolehnya mengaji dikuburan. Namun ada adab-adabnya, serta diniatkan pahalanya untuk ahli kubur.

Source Code Facebook Open Graph

code facebook open graph

Banyak yang mengalami masalah ketika sharing situs websitenya di Facebook. Ada yang tidak muncul gambar tampilan, tidak muncul deskripsi, / tidak muncul judul dan permasalahan sejenis lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut pasang Code Facebook Open Graph ini pada template anda.

Login Blogger - Tema - Edit HTML - dan pasang kode berikut dibawah syntax <head>.

<!-- [ Facebook Open Graph Meta Tag by igniel.com ] -->
<b:if cond='data:blog.url == data:blog.homepageUrl'>

<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'>

<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;static_page&quot;'> 

<b:if cond='data:blog.url'>

<meta expr:content='data:blog.url' property='og:url'/>

</b:if>

<meta expr:content='data:blog.title' property='og:site_name'/>

<b:if cond='data:blog.pageName'>

<meta expr:content='data:blog.pageName' property='og:title'/>

</b:if></b:if></b:if></b:if>

<meta content='blog' property='og:type'/>

<b:if cond='data:blog.postImageUrl'>

<meta expr:content='data:blog.postImageUrl' property='og:image'/>

<b:else/>

<b:if cond='data:blog.postImageThumbnailUrl'>

<meta expr:content='data:blog.postThumbnailUrl' property='og:image'/>

<b:else/>

<meta content='https://4.bp.blogspot.com/-ie52Oh_wT-s/WHHi75UACjI/AAAAAAAAEYE/PnOATooq-Y4v_HVhR_AakM0G2d699uWIwCLcB/s1600/ignielcom.png' property='og:image'/>

</b:if></b:if>

<b:if cond='data:blog.metaDescription'>

<meta expr:content='data:blog.metaDescription' property='og:description'/>

<b:else/>

<meta expr:content='data:post.snippet' property='og:description'/>

</b:if>

<meta expr:content='data:blog.title' property='og:site_name'/>

<meta content='https://www.facebook.com/106660612706164' property='article:author'/>

<meta content='https://www.facebook.com/106660612706164' property='article:publisher'/>

<meta content='106660612706164' property='fb:admins'/>

<meta content='en_US' property='og:locale'/>

<meta content='en_GB' property='og:locale:alternate'/>

<meta content='id_ID' property='og:locale:alternate'/>

<!-- FINISH -->

https://4.bp.blogspot.com/-ie52Oh_wT-s/WHHi75UACjI/AAAAAAAAEYE/PnOATooq-Y4v_HVhR_AakM0G2d699uWIwCLcB/s1600/ignielcom.png

Ganti dengan link gambar default yang ingin ditampilkan.

106660612706164

 Ganti dengan username Facebook anda.

Malam Lailatul Qadar

Lailatul Qadar

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah terdapat malam Lailatur Qadar di dalamnya. Yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Kemuliaan malam Lailatul Qadar
  • “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3-4).
  • “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97] : 1).
  • “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5).
  • "Sesungguhnya bulan ini (bulan Ramadhan) telah mendatangi kalian dan didalamnya terdapat ada satu malam yang lebih baik dari seribu bula. Barangsiapa yang diharamkan dari kebaikannya maka ia benar-benar telah diharamkan dari kebaikannya kecuali orang yang sangat merugi". (HR. Ibnu Majah)
Mendapatkan malam Lailatul Qadar
  • “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).
  • “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim).
Imam Sya'rani KS menetapkan jatuhnya malam Lailatul Qadar berdasarkan hari pertama masuknya bulan Ramadhan. Berdasarkan hikayat Imam Sya'rani KS telah mendapatkan malam Lailatul Qadar berdasarkan cara tersebut selama 30 tahun. Kebanyakan para wali Allah telah menemukan malam Lailatul Qadar dengan cara tersebut. Penetapannya sebagai berikut :
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Minggu, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 29.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Senin, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 21.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Selasa, malam Lailatu Qadar jatuh pada malam ke 27.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Rabu, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 19.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Kamis, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 25.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Jum'at, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 17.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Sabtu, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 23.
Tentang penetapan diatas lihat di : [Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 , cetakan Syirkah al Ma’arif Bandung] , [Dalam kitab Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337, cetakan Daar Ihya al Kutub al ‘Arabiyyah] , [Dalam kitab I’anatuththaalibiin juz II halaman 257, cetakan al ‘Alawiyyah Semarang].

Namun walaupun kita tau caranya, jika tidak bersungguh-sungguh untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan memperbanyak ibadah dan taubat nasuha mesti kita tidak akan mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan beberapa penyebab lainnya.

Tanda-tanda pada malam Lailatul Qadar
  • “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi.  Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya).
  • ”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150).
  • Dalam Mu’jam At-Tobarani Al-Kabir daripada Waailah bin Al-Asqa’ daripada Rasulullah S.A.W telah bersabda yang artinya : Malam lailatul qadar bersih, tidak sejuk, tidak panas, tidak berawan padanya, tidak hujan, tidak ada angin, tidak bersinar bintang dan daripada alamat siangnya terbit matahari dan tiada cahaya padanya(suram).
  • Merasakan ketenangan dan kelezatan ibadah tidak seperti malam-malam lainnya.
Kisah nabi Muhammad SAW mendapatkan malam Lailatur Qadar :

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk i’tikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir Bulan Suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Nabi SAW ini. Beliau berdiri shalat mereka juga shalat, beliau menegadahkan tangannya untuk berdo’a dan para sahabatpun juga serempak mengamininya. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari Bulan Ramadhan.

Disaat Rasulullah SAW dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan shalatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah SAW dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak. Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.

Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak. seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya. Beliau sedang masuk kedalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kapalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Ketika Rasulullah SAW mengangat kepala dan mengakhiri shalatnya, hujan pun berhenti seketika. Anas bin Malik, sahabat Rasulullah SAW bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW.

Namun beliau pun mencegahnya dan berkata “Wahai anas bin Malik, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya. ” Anas pun duduk kembali dan mendengarkan dengan seksama cerita Rasulullah SAW mengapa beliau begitu lama bersujud. Masya Allah….ternyata ketika tadi Rasulullah SAW, dan disaat hujan mulai turun, disaat itu pula malaikat dibawah pimpinan jibril turun dalam keindahan dan bentuk aslinya. Mereka berbaris rapi dengan suara gemuruh tasbih dan tahmid mereka bergema dilangit dan dibumi serta alam semesta saat itu dipenuhi dengan cahaya ilahi.

Inilah yang membuat Rasulullah SAW terpaku menyaksikan keindahan dan cahaya yang sama sekali tidak pernah dilihat oleh mata. Gema tasbih dan tahmid malaikat yang tak pernah didengar oleh telinga dan suasana yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh pikiran manusia.
Itulah lailatul qadar.

Sumber : https://rumaysho.com

Download gratis aplikasi kasir untuk Cafe & Restoran

aplikasi restoran untuk PC

Dowwload aplikasi :

Windows : http://www.kiraju.com/assets/kiraju-cafe-resto-windows-i586.exe

Aplikasi ini bernama kiraju Cafe & Resto. Bisa digunakan untuk kasir semua jenis kafe, restoran, warung kopi maupun sejenis lainnya.

Fitur-fitur yang tersedia :
  • Pemesanan dan Pembayaran berdasarkan nomor meja
  • Pemesanan dan Pembayaran berdasarkan nama pemesan(bungkus)
  • Pindah meja
  • Pembatalan pemesanan
  • Print/cetak struk pemesanan
  • Print/cetak struk pembayaran
  • Meja yang terisi berwarna hijau, sedangkan yang kosong berwarna abu-abu
  • Daftar dan total pemasukan per-hari(bisa juga dilihat pemasukan berdasarkan user)
  • Daftar dan total pengeluaran per-hari
  • Menambah, mengubah dan mengurangi daftar menu
  • Menambah, mengubah dan mengurangi jenis menu
  • Nomor atau nama meja bisa diubah sesuai keinginan
  • Meja bisa di-disable (mati/tidak aktif) dan disembunyikan (tidak tampak)
  • Grafik keuangan(pemasukan-pengeluaran) bulanan dan tahunan
  • Grafik jumlah penjualan tiap menu (menu yang laku)
  • Cetak Laporan detil transaksi pemasukan dan pengeluaran dalam bentuk file PDF berdasarkan rentang waktu yang dipilih.
  • Backup dan restore database(menyimpan dan mengembalikan data seperti semula, berguna ketika hendak install ulang komputer atau ganti komputer)
Cara penggunaan :

Tutorial untuk admin :
  • Buka tab Jenis Menu, kemudian masukkan nama jenis menu cafe/resto Anda, pilih aktif pada status, klik tombol simpan. Contoh nama jenis menu: Makanan, Minuman.
  • Buka tab Daftar Menu, kemudian masukkan nama menu dan harga, pilih jenis menu yang telah anda masukkan sebelumnya, pilih aktif pada status, klik tombol simpan. Aplikasi sudah bisa digunakan.
Tutorial untuk kasir :

Meja
  • Buka tab Meja, pilih meja berdasarkan nomor, klik tombol Pesan.
  • Pada jendela Pesan, masukkan jumlah menu yang dipesan dengan mengklik 2(dua) kali secara cepat pada kolom Jumlah, setelah memasukkan jumlah pesanan, jangan lupa tekan enter. Kemudian klik tombol Selesai.
  • Klik tombol cetak untuk mencetak struk pesanan.
  • Klik tombol bayar, masukkan uang tunai yang dibayar oleh pemesan, kemudian klik OK.
  • Pada jendela Bayar, tekan tombol OK untuk menyelesaikan proses pembayaran. Struk pembayaran akan tercetak.
Bungkus
  • Buka tab Bungkus, klik tombol tambah baru, masukkan nama pemesan kemudian klik tombol simpan.
  • Pada jendela Pesan, masukkan jumlah menu yang dipesan dengan mengklik 2(dua) kali secara cepat pada kolom Jumlah, setelah memasukkan jumlah pesanan, jangan lupa tekan enter. Kemudian klik tombol Selesai.
  • Klik tombol cetak untuk mencetak struk pesanan.
  • Klik tombol bayar, masukkan uang tunai yang dibayar oleh pemesan, kemudian klik OK.
  • Pada jendela Bayar, tekan tombol OK untuk menyelesaikan proses pembayaran. Struk pembayaran akan tercetak.
Aplikasi yang dishare diatas aplikasi versi gratis. Aplikasi ini juga tersedia versi berbayar dengan kelebihan :
  • Nama dan alamat cafe/restoran Anda pada struk pemesanan dan pembayaran. Pada versi gratis, terpampang nama aplikasi ini pada struk pemesanan dan pembayaran yang bertujuan untuk kepentingan promosi.
  • Manajemen user. User terdiri dari tiga tingkatan, yaitu: Kasir(hanya dapat mengakses fitur Meja, Bungkus, dan Pemasukan), Admin(dapat mengakses semua fitur kecuali fitur penambahan, pengubahan, dan pengurangan User), dan Super User(dapat mengakses semua fitur tanpa terkecuali). Pada versi gratis, tombol masuk dan fitur user akan dimatikan.
  • Layanan bantuan dan pemeliharaan selama 1(satu) tahun.
  • Pemasangan/instalasi dan edukasi/pengajaran cara pemakaian.
Untuk mendapatkan versi berbayar hubungi : oki_singkil@yahoo.com atau 0812-8811-842.

11 nasehat bijak imam asy-Syafi'i r.a

Imam Syafi'i r.a

Karya Imam asy-Syafi'i R.A 

1. Biarkan hari berlalu dengan segala lakunya, Lapangkan dada atas segala Takdir-Nya

2. Janganlah gundah dengan segala derita. Karena cobaan dunia hanya sementara

3. Tangguhkan jiwa atas segala nestapa. Hiasi diri dengan maaf dan sikap setia

4. Semua aib akan dapat tertutup dengan kelapangan dada. Layaknya kedermawanan menutupi cela manusia

5. Tak ada kesedihan yang abadi, begitupun suka ria. Dan tak ada pula cobaan yang kekal, begitupun riang gembira

6. Di depan musuh, janganlah engkau bersikap lemah. Karena hinaan dari seteru adalah bencana

7. Dan jangan pernah berharap dari kikir durjana. Karena api takkan menyediakan air untuk si haus dahaga

8. Rizkimu takkan berkurang karena ditunda. Dan takkan bertambah karena lelah mencarinya

9. Bila engkau punya hati qona'ah bersahaja. Tak ada bedanya engkau dengan pemilik dunia

10. Bila kematian sudah datang waktunya. Tak ada lagi langit dan bumi yang bisa membela

11. Ingatlah, dunia Allah sangat luas tak terhingga. Tapi bila takdir tiba, angkasa pun sempit terasa. Maka biarkanlah hari berlalu setiap masanya, karena kematian tak ada obat penawarnya.

Code stack di C++ untuk membalikkan input bilangan dan huruf

source kode

// program membalikkan kata dan angka yang di inputkan oleh user.
#include <iostream>

#include <windows.h>

#include <stdio.h>

#include <conio.h>

#define  maxstack 200                        // library untuk jumlah batas kata dengan 200

using namespace std;

struct STACK                               //membuat jenis data abstrak stack

{

int top;

char data [maxstack];                       //pendeklarasian untuk mnginputkan suatu kalimat stack dengan maks 200

};

char data [maxstack];

struct STACK stackbaru;

bool isfull()                                //fungsi untuk mengetahui apakah stack dalam kondisi terisi (mengunkan boolean)

{

    if (stackbaru.top == maxstack -1)

return true;                                 //jika kondisi stack penuh maka benar

    else

return false;

}

bool isempty()                               // fungsi stack apakah dalam kondisi kosong

{

if (stackbaru.top == -1)

return true;

else

return false;

}

void push (char data)                   //fungsi untuk proses push

{

if (isfull()== false)

{

stackbaru.top++;                        // user input data dengan variabel data dimana data tersebut akan di simpan di stack baru yang paling atas

stackbaru.data[stackbaru.top]= data;     //increment,yang bermaksud jika pengingputan data lagi maka akan ersimpan diatas data sebelumnya

}

else                                            //jika stack dalam kondisi penuh

{

cout<<"\nmaaf Stack penuh";

}

}

void pop()                                     //mengambil isi stack

{

while (isempty() == false)  //jika kondisi stack tidak kosong

{

cout<<stackbaru.data[stackbaru.top];    //akan menampilkan data di stack dimana data berada paling atas

stackbaru.top--;    //increment, jika user memilih menu pop lagi maka program akan menampilkan data di bawah data yg telah terambil sebelumnya

}

}

void print()    //mencetak stack

{

system ("cls");

    cout<<"\n    ->   Data awal penginputan anda yaitu                 :";

    for (int i=0;i<=stackbaru.top; i++)    //diulang sebanyak data yang tersimpan di data

    {

    cout<<stackbaru.data[i];

    }

}

void clear()

{

stackbaru.top = -1;

}

int main()

{

char kata [200];     //menampung inputan

cout<<endl;

cout<<"-------------------------------------------------------------"<<endl;

cout<<"-------------- PROGRAM MEMBALIKKAN ANGKA DAN HURUF------------"<<endl;

cout<<"-------------------------------------------------------------"<<endl;

cout<<endl;

cout<<"    ->   Input Data : ";

gets(kata);

cout<<endl;

    for(int i=0; kata[i]; i++)

{

push(kata[i]);

}

print ();

cout<<endl;

cout<<"    ->   Data Kata Huruf dan Angka yang dibalik Menjadi   : ";

pop();

cout<<"\n";

}
Sampe disini kodingnya. Selamat mencoba.

Source code C++ untuk membalikkan input bilangan

#include <iostream>
using namespace std;

class reserve

{
public:
int proses();
void keluaran();
private:
int n,dibalik;
};

int reserve::proses()
{
cout<<"Input Data : ";
cin>>n;
dibalik=0;
while(n>0)
{
dibalik=(dibalik*10)+(n%10);
n/=10;
}

return dibalik;
}

void reserve::keluaran()
{
cout<<endl<<"Output Data = "<<dibalik;
}

int main()

{
reserve bilangan;
bilangan.proses();
bilangan.keluaran();
}

Deklarasi
n = sebagai integer (input)
dibalik = sebagai integer (output)

Deskripsi
Write n = input bilangan oleh user
dibalik=0;
while(n>0) =Jika bilangan lebih besar dari 0
dibalik=(dibalik*10)+(n%10); = Syntak membalikkan bilangan
n/=10;
write dibalik; = output bilangan yang sudah terbalik

Untuk bisa mengcopy kode diatas, disable javascript di browser yang anda gunakan. Untuk menguji source kode diatas,
  • Buka situs cpp.sh / bisa juga lewat program code blocks / program C++ lainnya.
  • Pastekan kode diatas.
  • Run.