Mazhab dan Persatuan Islam

Mazhab dan Persatuan Islam saling melengkapi

Assalamu'alaikum pembaca Glorif. Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Ikhtilafuhum rahmah”, perbedaan ulama (dalam masalah fiqih) adalah rahmat. Beliau mengatakan hal ini dalam kitab beliau Lum’atul I’tiqod. Namun yang harus digaris bawahi bahwasanya perbedaan masalah fiqih tersebut harus hadir dari usaha keras ijtihad para ulama mujtahid.

Mujtahid-mujtahid yang paling terkenal yang menjadi pegangan para ulama terdahulu sejak beberapa abad kebelakang sampai sekarang hingga seterusnya adalah imam-imam Madzahibul arba'ah, yaitu:

  • Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit
  • Al-Imam Maliki bin Anas Al-Ashbahy
  • Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i Al-Quraisyi
  • Al-Imam Ahmad bin Hanbal As-Syaebani


Kembali ke judul pembahasan kita "Mazhab dan Persatuan Islam". Pernahkah anda mendengar pernyataan "memilih meninggalkan mazhab atau memilih meninggalkan persatuan"?

Biasanya pernyataan tersebut muncul dari orang-orang yang menganggap bahwasanya keberadaan mazhab-mazhab membuat umat Islam terpecah-belah. Padahal tidak seperti itu adanya, orang yang mantap pengetahuannya tentang fungsi sebenarnya dari adanya mazhab-mazhab mesti tau bahwasanya pertanyaan itu kurang tepat, karena sejatinya tidak terdapat hubungan pertentangan antara keberadaan mazhab-mazhab dan persatuan bahkan saling melengkapi antara satu sama lain.

Coba deh bayangin jika seandainya gak ada mazhab-mazhab tersebut, betapa banyak orang yang membuat hukum-hukum sendiri dengan sesuka hati dari pemahaman yang salah dalam menafsirkan ayat Al-Quran dan Hadits tanpa membandingkan dengan hadits-hadits lainnya yang membahas perkara yang sama. Sudah tentu dengan keadaan tersebut akan semakin banyak perpecahan-perpecahan yang terjadi.

Simaklah pidato Syahid Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi dibawah yang disampaikan di depan kumpulan para ulama saat beliau menjabat sebagai khatib Masjid Jami' Raya Bani Umayyah - Damaskus tentang hakikat sebenarnya mazhab dan persatuan Islam.

Inilah pidatonya :

Mazhab dan Persatuan Islam

Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah, Dzat Yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna amal-amal saleh. Sebaik-baik shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Sayyidina Muhammad SAW juga kepada seluruh saudara-saudaranya dari kalangan para Nabi dan para Rasul, dan juga semoga tercurah kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya.

Amma ba'du....

Tuan-tuan, di dalam sebuah pertemuan yang indah dan baik, seperti pertemuan pada kesempatan ini, saya pernah ditanya dengan pertanyaan berikut:

Apa salah satu dari dua hal yang harus dikorbankan untuk menyelamatkan yang lainnya ? Apakah persatuan yang harus dikorbankan untuk terselamatkannya mazhab? Atau mazhab yang harus dikorbankan untuk terselamatkannya persatuan?

Saya katakan bahwa pertanyaan ini hanya muncul dari orang yang mengira bahwa di antara persatuan umat dan keberadaan mazhab-mazhab di dalam Iman dan Islam terdapat hubungan pertentangan bahkan kontradiksi sehingga keduanya tidak mungkin bersatu. Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali mengorbankan salah satu agar yang lainnya terselamatkan.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Hubungan antara persatuan umat dan keberadaan mazhab-mazhab Islam bukan hubungan pertentangan, apalagi kontradiksi.

Maksimal kebersamaan yang mungkin kita terapkan kepada hubungan antara keduanya adalah hubungan saling menyokong dan kemudian hubungan saling mempengaruhi. Itu dikarenakan tujuan persatuan umat adalah tujuan sama yang juga diharapkan dari keberadaan mazhab-mazhab di dalam keislaman dan keimanan.

Jika tujuan sama, maka jalan-jalan (untuk menujunya) boleh (untuk ditempuh) meskipun beraneka ragam.

Tidakkah anda melihat bagaimana suatu kaum yang menempuh perjalanan di padang pasir menuju ke suatu negeri untuk mendapatkan air yang mereka butuhkan. Mereka pun menempuh jalan-jalan yang berbeda untuk sampai ke tempat diasumsikan tempat keberadaan air itu.

Apakah mungkin kita memahami bahwa jalan-jalan yang berbeda-beda yang ditempuh oleh kaum itu untuk mencari tujuan yang sama, yaitu air.

Apakah mungkin kita memahami bahwa mereka dengan demikian menempuh jalan-jalan yang bertentangan?! Terlebih dipahami sebagai jalan-jalan yang saling bermusuhan sehingga menyingkirkan persatuan dan bertentangan dengannya ?!

Tidak ada orang yang akan memahami seperti itu.

Kita semua tahu bahwa mereka yang berpencar di jalan-jalan yang berbeda-beda ini untuk menjadi air yang diharapkan itu saling membantu dengan kadar perbedaan mereka di jalan-jalan ini. Makna ini seperti ini pula yang terwujud pada mazhab-mazhab yang ada dalam keislaman, dan bahkan saya ingin katakan, dalam keimanan juga.

Sesungguhnya tujuan tertinggi dari persatuan itu adalah keridhaan Allah SWT. Dan tujuan tertinggi dari keberadaan mazhab-mazhab juga seharusnya adalah tercapainya keridhaan Allah.

Sesungguhnya air yang dapat menghilangkan dahaga kita semua tidak lain terwujud hanya pada keridhaan Allah SWT. Sedangkan keridhaan Allah SWT hanya dapat tercapai dengan mengikuti apa yang telah kita dengar tadi.

"Dan berpeganglah kamu semua kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (Q.S. Ali Imran, 103)

Meskipun kita berpisah-pisah di jalan-jalan yang beragam untuk mencari air yang dapat menghilangkan dahaga kita, maka air itu tidak lain kecuali apa yang telah saya katakan kepada anda semua.

Air itu tidak lain kecuali tujuan suci ini yang mempersatukan kita dan yang dengannya kita akan menjumpai Allah SWT. Sesungguhnya tujuan itu adalah keridhaan Allah SWT.

Kemudian juga diantara persatuan dan keberadaan mazhab-mazhab Islam tidak terdapat persoalan yang menuntut ketidakpedulian terhadap salah satu dari keduanya untuk mempertahankan yang lainnya.

Melainkan di antara keduanya terdapat potensi interaksi saling menyempurnakan. Seperti yang anda semua saksikan, saya lebih memfokuskan kepada kesamaan tujuan.

Karena itu hendaknya kita meresapi di dalam hati-hati kita tujuan yang sama ini. Kita sedang dalam perjalanan. Kita tengah menempuh perjalanan di padang pasir ini. Kita sedang menempuh padang pasir dunia yang buas ini menuju kepada pertemuan yang akan datang sebentar lagi dengan Allah SWT.

Jika tujuan kita di dalam semua upaya kita adalah keridhaan Allah SWT, Maka cintailah mazhab-mazhab Islam seberapapun banyaknya. Dan mazhab-mazhab ini harus dihiasi dengan mahkota persatuan Islam dan iman.

Tapi, tuan-tuan sekalian, saya harus mengingatkan diri saya sendiri dan mengingatkan anda semua tentang suatu hal.

Bahwa sayang sekali penyakit-penyakit jiwa seringkali menghalangi jalan kita dan seraya senantiasa mengintai. Penyakit-penyakit jiwa kita yang terjelma dalam bentuk fanatisme terhadap diri, terjelma dalam bentuk fanatisme ke-aku-an di dalam mazhahb dalam banyak kesempatan, dan terjelma dalam bentuk kepentingan-kepentingan sejenak yang akan hilang.

Maka kita harus selalu mewaspadai penyakit-penyakit jiwa ini. Kita harus mewaspadai potensi-potensi yang dapat menimbulkan penyakit-penyakit di sana-sini di dalam perjalanan kita kepada Allah SWT.

Bagaimana kita dapat memerdekakan diri dari keegoisan diri ini ?

Tidak ditemukan cara untuk itu, dan saya telah lama memikirkannya. Tentu ini suatu problem. Kecuali satu cara saja, yaitu menghadirkan rasa selalu diawasi oleh Allah SWT. Kita semua beriman kepada Allah. Kita semua disatukan oleh rasa yang sakral yaitu rasa penghambaan diri kepada Allah dan rasa ketundukan di hadapan kekuasaan Allah SWT. Jadi rasa ini harus selalu hidup dengan mengingat Allah SWT.

Jika saya telah berpegang kepada hujjah di dalam mazhab-mazhab hasil ijtihad yang saya anut, maka seyogyanya saya memahami bahwa hujjah yang harus saya bawa saat pertemuan saya dengan Allah SWT.

Dan saya harus bertanya kepada diri-sendiri, apakah Allah SWT akan menerima hujjah (argumen) ini yang dengannya saya membela pendapat dan mazhab saya ketika saya berdiri di haribaan-Nya di hari seluruh manusia bangkit menghadap Tuhan semesta alam.

Jika saya mengetahui dan saya merasa yakin bahwa saya akan memberikan hujjah ini (ke haribaan Allah) dengan wajah yang putih bersih, dan saya akan mampu menjelaskannya dengan keteguhan yang kuat dan kokoh yang dengannya saya mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka saya akan bahagia karena mazhab yang saya usung. Dan apa yang berlaku kepada saya ini juga berlaku terhadap saudara-saudaraku semua.

Maka dalam kondisi ini, (perbedaan-perbedaan) ijtihad kita akan tercurah kepada tujuan yang diharapkan, air yang dapat menghilangkan dahaga kita, yaitu dahaga akan keridhaan Allah SWT.

Saya yakin, saudara-saudara sekalian, jika kita mengamalkan nilai ini, niscaya Allah SWT akan memberikan taufik yang besar dan akan menutupi setiap celah kelemahan yang saya paparkan saat ini.

dan sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Yang Mulia dan yang telah dan senantiasa saya cintai, yaitu Allamah Syaikh Tasykhiri. Bahkan saudara-saudara sekalian, tidak seharusnya kebencian memiliki tempat di hati-hati kita.

Tidak sepantasnya kedengkian menghalangi antara saya dengan saudara saya di dalam kemanusiaan yang dikepalanya mengusung penghambaan kepada Allah dan yang kepalanya mengusung cinta kepada Allah SWT. Cukup cinta ini bagi kita semua. Dan cukup cinta ini menjadi ruh yang dapat merealisasikan persatuan ini di dalam kehidupan kita.

Saya tidak ingin lebih berpanjang lebar lebih dari apa yang telah saya sampaikan. Terimakasih atas perhatian anda semua. Wassalamu'alaikum.

Jika anda ingin melihat versi videonya, lihat di link : youtube.com/watch?v=kotkuq_YYOI

0 Response to "Mazhab dan Persatuan Islam"

Posting Komentar

Terimakasih telah membaca artikel ini, semoga bermamfaat. Komentar yang membangun dan bersifat positif sangat diharapkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel