Kumpulan Puisi Kebijaksanaan Tentang Cinta & Rindu

Kumpulan Puisi Kebijaksanaan Tentang Cinta & Rindu

1001 Puisi Tentang Cinta dan Rindu yang Saling Berkaitan Hingga Menjadi Sebuah Cerita


Sajak Ceudah Keumala | Indah Pertiwi | IG : @ceudahkeumala


Aku ingin mencintaimu seperti ini saja; puisiku yang ragu-ragu menampakkan diri, sedang maknanya melesak kesana-kemari. Tentang kamu.

Bahkan langit pun mengerti bahwa rinduku tak dapat dibendung oleh hati. Ia menumpahkannya selayak mata air yang mengalir deras dari telaga surgawi.

Maaf, Tak Ada yang Dapat Kuberikan Untukmu. Katamu, bahagia itu sederhana. Maka, kutawarkan kesederhanaan itu padamu, maukah kau bahagia denganku?

Daftar Isi :

  1. Sebuah Pesan Singkat
  2. This is Not A Love Story. This is A Story About Love
  3. Memelihara Cemburu
  4. Kan Kutemukan Dirimu di Lalu Lalang Takdir
  5. Rindu
  6. Menawan Sendu
  7. Rihon
  8. Hingga Episode Terakhir Kisahku, Kau Tetaplah Pemeran Utama
  9. Untukmu di "Kehidupan Kata-Kata"
  10. Untukmu di Rumah Kata-Kata
  11. Aku Ingin Pulang
  12. Aku Suka Jari-Jemarinya
  13. Setangkai Ingatan
  14. Aku suka membacanya
  15. Kisah Tentang Kita
  16. Apakah Kau Bahagia ?
  17. Mengejar Cintanya
  18. Kau
  19. Biarkan Semuanya Mengalai Bagaikan Air
  20. Cintamu dan Sebuah Perahu Kertas Bermuatan Doa
  21. Mengikhlaskan
  22. Pamit - Ar
  23. Biarlah Semesta Memutuskan Jalan Terbaik Bagi Kita - Ar
  24. Malam - Ar
  25. Sebuah Pertemuan - Ar
  26. AR

Sebuah Pesan Singkat

Jemari lincah menekan tuts-tuts pada layar telepon genggam. Sebuah kalimat sapa yang tertuju untukmu telah tertata rapi. Kubaca lagi beberapa detik sebelum akhirnya kuputuskan menekan tanda silang sampai kalimat itu hilang. Aku menghapusnya.

Sekarang, hari-hari lalu, mungkin hingga esok lusa akan terus seperti ini. Pesan singkat itu tak pernah terkirim.

Bagaimana caranya bertegur sapa tanpa harus memulainya?

Sial. Kenapa sekadar bertanya kabar jadi serumit ini? Aku tak punya cukup nyali melakukannya. Meskipun hanya melalui gawai.

Kuletakkan telepon genggamku.

Menunggu. Saat dering pertama tanda pesan masuk, aku sumringah berharap itu darimu. Kubuka. Bukan. Itu pesan dari operator penyedia layanan yang mengingatkan bahwa kuota internetku akan segera habis. Nasib. Aku masih menunggu. Namun, namamu tak juga muncul. Maka kubiarkan saja telepon genggamku tergeletak sembarang. Tak kupedulikan. Sampai akhirnya layarnya kejang-kejang sebelum ia bunuh diri.

This is Not A Love Story. This is A Story About Love

Aku baru saja selesai membaca kisah yang ia tulis.

Tentang romansa kehidupan cinta yang berpihak kepada lain hati. Dan kutemukan namaku di sana.

Aku tahu, dia tak benar-benar menulis tentangku atau membayangkanku saat menulis cerita itu. Tapi aku tahu betul, gelagatnya yang terlihat lain cukup menjelaskan satu hal: ia tak menyukaiku.

Penulis tak mesti menulis apa yang dirasakannya dan sudah sewajarnya apa-apa yang ia rasa dituangkan dalam tulisan. Aku memahami dengan baik konsep ini. Total ada 317 halaman draft tulisan miliknya yang kubaca termasuk beberapa sajak di dalamnya. Itu draft untuk novel yang ingin ia terbitkan.

Aku seperti terlempar ke waktu beberapa tahun silam. Saat aku pertama kali menulis tentangnya lewat sebuah sajak. Ada beberapa sajak yang kukirim untuknya bahkan. Selebihnya, beratus-ratus bait itu hanya mendekam di dalam kotak elektrik tempat aku menyimpan data dan berkas-berkas kerjaku.

Kisah tentangnya takkan pernah selesai kutulis. Tidak untuk saat ini. Bisa jadi masih berlanjut. Entahlah. Tapi satu hal yang pasti-entah dia mengetahuinya atau tidak-aku masih mencintainya.

Mungkin bukan cinta seperti dulu, cinta kekanak-kanakan yang membuatku menolaknya padahal aku tahu itulah satu-satunya kesempatanku.

Cinta yang membuatku mempertahankan ego hanya karena awalnya dia tidak memilihku. Sebab katanya, dia telah lebih dulu mengenal gadis lain.

Kini aku mencintainya dengan cara berbeda. Aku tak tahu bagaimana menyebutnya. Yang jelas sampai saat ini hatiku tak pernah benar-benar lepas darinya.

Pun kenyataannya adalah aku dan dia bersahabat. Dia menulis dan aku membacanya. Dia adalah buku yang setia aku baca bahkan dia menjadi apa-apa yang aku tulis.

Menemukan seorang sahabat dalam diri orang yang dicinta bagi sebagian orang mungkin adalah hal yang patut disyukuri. Namun, menemukan cinta dalam seorang sahabat bukankah menjadi sebuah dilema? Takdir memang seringkali keterlaluan. Aku benar-benar dipermainkannya.

Memelihara Cemburu

Jika menurutmu memelihara cemburu adalah kesalahan, maka mulai detik ini akan kubuang seluruh cemburu yang ada dalam diriku. Kubungkus ia dengan sehelai kain paling jelek yang pernah ada, sebab kau memandangnya sebagai sesuatu yang menjijikkan. Kukubur di lahan yang jauh dari jamahan manusia pun hewan-hewan. Hingga ia akan membusuk diurai cacing-cacing saja dan pada akhirnya lenyap tak bersisa.

Jika kau menilai cemburuku sebagai hal yang amat menyebalkan sehingga bagimu aku adalah orang yang tak diharapkan, maka sepenuh rasa kan kucungkil paksa dengan kasar cemburu di hatiku itu. Biar engkau tak perlu lagi merasa muak ketika berhadapan denganku.

Aku melakukannya sungguh-sungguh. Tak akan aku membantah ataupun menyampaikan dalil-dalil kenabian tentang cemburu. Meski cemburuku beralasan. Sebab kan muncul banyak protes dan aku sudah cukup lelah dituduh membela diri. Jadi, kulakukan semua seperti inginmu.

Maka, itu sudah cukup, bukan? Satu catatan saja buatmu, saat cemburuku telah kumusnahkan, maka sesungguhnya cintaku pun ikut bersamanya. Dan ketahuilah, sejak kau memejamkan mata dua purnama lalu, cemburuku telah enyah.

Kan Kutemukan Dirimu di Lalu Lalang Takdir

Pada jumlah usia yang bertambah ramai akankah kutemukan dirimu di lalu lalang takdir yang bijak mengajak mata membaca jarak; jangan takut diburu waktu yang dulu sempat menemankan ragu dalam tunggumu.

Biarlah dulu asa duduk di bangku panjang persinggahan berbagai andai sampai detik keberangkatan angka delapan dari jemarimu.

Perayaan hari ini belum selesai : impian masih naik-turun di bandara.

Demi tahun-tahun yang selamat memulangkan kenangan kuucapkan: tumbuhlah dengan separuh aku

Rindu

Peluit kereta berbunyi nyaring. Rindu-rindu riuh di dalam ranselku. Mereka sangat antusias. Sabar. Tujuan kita masih setengah jalan. Saat kereta merapat ke peron, rindu-rindu mulai bernyanyi riang.

Kakiku melangkah keluar kereta, mencari tempat duduk. Rindu-rindu melesak, berebut keluar dari dalam ransel dan berlarian di sepanjang pinggiran rel sampai ke arah tumpukan gerbong yang telah usang. Aduh, mereka menuju area terlarang!

Aku mengejar. Tak jadi duduk. Berusaha menangkap rindu satu-satu, sia-sia. Nafasku jadi tersengal. Cukup dengan sekali loncatan, mereka sudah berada di dalam gerbong. Berkejaran, tertawa-tawa dan semua hening. Rindu-rindu sangat lihai bermain ini: sembunyi. Berkali-kali aku mengecek lingkaran waktu di pergelangan tangan. Lama mereka di dalam sana.

Peluit kereta berbunyi nyaring. Kereta akan segera berangkat. Pengumuman itu diperjelas oleh pengeras suara di sudut langit-langit stasiun. Aku masih berupaya memanggil-manggil rindu yang tak mau turun dari bangkai-bangkai gerbong.

Aku semakin cemas. Kurasakan jantungku berdetak cepat, mataku awas melihat ke arah pemberhentian kereta memastikan orang-orang yang naik belum habis. Seorang petugas stasiun yang berjaga-jaga di sekitar kuburan gerbong mulai memperhatikan gelagatku. Matanya penuh curiga mengisyaratkan aku menyingkir dari situ.

Rindu yang kubawa ini cukup banyak. Mereka adalah pesanan seseorang. Maka tujuan dari perjalananku tidak lain adalah untuk mengantar rindu-rindu itu. Namun rindu-rindu amatlah nakal. Mereka tak mau kembali meski aku susah payah memanggil, mengejar, mencari, membujuk. . Peluit kereta berbunyi nyaring. Aku mengecek lingkaran waktu di pergelangan tangan. Lama mereka di dalam sana.

Menawan Sendu

Jika kau bertanya apa kabarnya penyair yang suka berulang-ulang melafalkan mantra cinta dalam sajaknya itu, ketahuilah, ia telah berhasil menjinakkan sendu setelah sempat tertawan rindu yang biru.

Percayalah dia juga sedang berbahagia mendengarkan surat cinta berisi doa-doa. Untuknya : Selamat mengulang tahun dan menghabiskan usia bersamaku. Yang selalu mencintaimu, Puisimu.

Rihon

Pagi tadi, setelah selesai ritual subuh, aku membuka kotak masuk di perpesanan ponsel jadulku-aku menyebutnya hape "titut"- dan membaca sebuah pesan di sana: "I love you, dear. Du bis alles was ich habbe in der welt." Itu adalah pesan yang dikirim ayah lima tahun lalu. Masih utuh. Tak kuhapus.

Menyimpan riwayat obrolan dengan seorang yang dianggap istimewa adalah hal yang sering dilakukan oleh sebagian orang. Tentu dengan berbagai macam alasan. Dan membaca pesan dari ayah itu adalah kebiasaan yang kulakukan setiap hari. Sisa kenangan yang menambah sedikit banyak kekuatanku menghadapi dunia.

Jadi, selain gambar diri dan puisi, adakah yang membuat seseorang abadi dalam ingatan? Ada. Pesan singkatnya. . . . . . . . Jangan lupa hubungi orang-orang yang kau cintai hari ini.

Hingga Episode Terakhir Kisahku, Kau Tetaplah Pemeran Utama

Apa makna cerita lama bagi kenangan baru yang tumbuh di kepalamu ketika nanti kita bertemu sedang ingatan telah berdebu?

Kita tengah memerangkap takdir masing-masing sambil mengurai jejak dan terus memilin ingin yang membuat kita selalu percaya pada suluh di malam jauh.

Pada suatu waktu yang selalu ada, pabila nanti kita kembali bertemu apakah bagian rumit darimu akan menyimpan sekelumit aku?

Untukmu di "Kehidupan Kata-Kata"

Mengingatmu adalah pertanda almari ingatan terbuka kenangan usang yang penuh sesak tumpah-ruah: surat cinta, foto kita, serta kertas-kertas sajak berserak sebagai asa yang sia-sia, tapi adakah kau masih mengingatnya jika aku pungut dan menyebut nama lain kita?

Kita sama tahu kenangan semacam peta buta bagi kita yang dijeda pertemuan-perpisahan dari sejumlah rindu dan apa yang disebut nama lain kita tapi, adakah kau masih mengingatnya?

Untukmu di Rumah Kata-Kata

Dari segala yang tercipta di antara kita, aku menyimpulkan satu hal: Sapardi benar, tak ada yang lebih tabah dari hujan di bulan Juni.

Kita tahu betul antara kau dan aku tumbuh sekuntum ingatan yang setia menuai kenangan namun kita hanyalah fatamorgana yang menjadi mimpi asing kemudian mengutuk diri masing-masing.

Kau menyalahkan rinai hujan sebab senantiasa menghijaukan kegelisahan. Kau merindukanku, bukan?

Kamu, Puisi Kesukaanku

Katakan padaku puisi yang kau suka.

"Aku Ingin"-nya Sapardi Djoko Damono. Kenapa? Karena gagasan menyajakkan keinginan mencintai dengan sederhananya itu. Sangat orisinil. Biasa tapi luar biasa.

Gagasan itu diramu dengan keterampilan yang memukau. Dua bait, masing-masing tiga larik. Padat, hemat, dan hidup. .

Jadi, kau suka karena itu sajaknya cinta-cintaan? . Huu bukan itu intinya. Tapi coba kau lihat. Bahan sajaknya sebenarnya tidak istimewa. Biasa saja. Kayu yang terbakar. Awan jelang hujan. Tapi imajinasilah yang bikin itu jadi amsal yang dahsyat. Apa yang lebih ikhlas dari awan yang jadi tiada demi mengadakan hujan? Dan cinta diibaratkan dengan itu. Ah, sungguh puisi yang menghujam relung hati!

Eh, kau sendiri, apa puisi yang kau suka? . Kamu.

Aku Ingin Pulang

"Aku sedih, kesal juga. Aku sudah capek. Mau pulang saja."

"Eh. Pulang kemana?"

"Ke akhirat. Kepada Rabb-ku."

"Oh... Itu ada waktunya, sayang. Sabar. Tak usah buru-buru. Sekarang pulang kesini saja dulu." .

"Kemana?"

"Kepadaku. Sini, aku peluk."

Pelukannya sempurna merangkul seluruh hatiku. Hangat dan nyaman. Tanpa perlu banyak kata-kata. Aku tersenyum mengeratkan dekap. Dia menutup mata mentasbihkan doa-doa.

Aku Suka Jari-Jemarinya

Aku suka jari-jemarinya. Jari-jari itu panjang dan lentik. Persis seperti jari perempuan, 'lady-like'. Jari-jemarinya sungguh lincah.

Aku suka sekali melihatnya menulis menggunakan jari-jemari. Ketika dia menulis, jarinya menari dengan leluasa. Aksara-aksara mengalir dari ujung-ujungnya tanpa hambatan. Sesekali berhenti sejenak di akhir tanda baca.

Melihat jari-jemarinya mengingatkanku pada jemari ibu, sumber masakan terlezat tersaji. Bicara soal masak, si pemilik jari-jemari yang kusukai juga pandai sekali memasak. "Masakan, meski resep yang dibuat sama, tetap akan beda rasanya jika diracik oleh orang yang berbeda. Itu karena bergantung pada rasa 'air tangan' yang dialirkan oleh jari-jemarinya," ucap dia suatu kali.

Jika ada hari jari-jemari, mungkin aku akan jadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepada jari-jemarinya. Memberi kecupan hangat satu per satu di tiap-tiap ujungnya sambil berharap mereka tak akan pernah menua dan keriput. "Kau tahu kenapa jari-jemari kita memiliki ruang antara satu dengan yang lain?" "Tidak. Memangnya kenapa?" "Karena jari-jemari kita diciptakan untuk saling mengisi, saling melengkapi. Seperti ini," dia menyelipkan jari-jemarinya ke dalam celah-celah jari-jemariku. Kemudian menggenggamnya dengan erat. Sangat erat.

Setangkai Ingatan

Ada setangkai ingatan melayang di antara lapisan senja diterbangkan angin selatan dari negeri nun jauh meliuk-liuk menanti jatuh ke pangkuanmu

Aku suka membacanya.

Dia bukan sebuah buku apalagi sepucuk surat cinta. Dia adalah manusia biasa sama sepertiku. Tetapi, dia amat hebat memaknai tiap kata.

Apa-apa yang ia ucapkan bagaikan embun di awal fajar; menyejukkan dan meresap ke dalam kalbu. Kata-katanya selalu penuh hikmah begitupun lakunya. Ia senang sekali bercerita dalam perumpamaan langit dan bumi dengan bahasa yang sederhana. Sangat mudah dipahami. Selalu aku terkesan dibuatnya.

Tapi kemudian aku berhenti membacanya. Bukan karena satu titik tanda pemberhentian. Bukan juga jeda yang disebabkan sebuah koma atau spasi yang membuat jarak hingga terhenti lama. Aku berhenti membacanya setelah tergugu di depan cermin. Seseorang di dalam cermin itu telah lupa membaca dirinya sendiri.

Kisah Tentang Kita

Jika melihat kebaikan seseorang membuatmu jadi lebih baik dari sebelumnya, maka sesungguhnya Allah telah tumbuhkan cinta yang suci di hatimu. Allah telah lembutkan hatimu oleh sebab kesukaan itu hingga hidayahNya masuk dengan mudah. Begitulah cinta sebenarnya. Karena sebaik-baik cinta adalah cinta yang membuatmu jadi baik dan menghadirkan kebaikan-kebaikan.

Terimakasih untuk hari-hari penuh cinta dua tahun terakhir. Untuk permata-permata nasehat, untuk beralbum-album kenangan yang membekukan waktu, untuk perjuangan bersama mengejar mimpi tanpa henti, dan untuk penguatan saat semangat hidup ini nyaris tumbang, saat aku merasa benar-benar sudah sakit jiwa dalam artian yang sebenarnya. Sungguh dua tahun terakhir yang amat kusyukuri.

Semua kisah memiliki ujungnya. Sebelum episode kisah kita menemui akhir, kuharap ia masih akan terus tercatat dalam kitab takdir sebagai persahabatan yang indah. Mengalir bagai air telaga Kautsar. Biarlah nanti Malik Maut yang menamatkan seluruh cerita. Terimakasih telah menjadi bagian dari potongan kehidupanku yang penuh kejutan.

Apakah Kau Bahagia ?

Apakah kau bahagia? Kembang matahari itu mengangguk pelan. Wajahnya tersenyum seperti senyum matahari senja di atas kami, hangat.

Bagaimana kau bahagia? Kau tak kemana-mana, hanya berdiri di sini saja. Aku bahkan tak melihat kupu-kupu atau kumbang singgah.

Kebahagiaan itu tak berbatas. Aku bahagia karena tumbuh tepat dimana aku harusnya berada, menikmati matahari dengan penuh syukur-menunai takdirku. Aku bisa berbicara pada tanah dan cacing-cacing yang ada di dalamnya. Kami saling berbagi apa saja.

Saat aku terkadang murung, mereka menyemangatiku. Mereka teman yang baik, membuatku betah. Akarku bahkan tambah kokoh karena memberikan tempat tidur bagi cacing-cacing itu. Kau tentu juga tak tahu bahwa angin senantiasa menyapaku ramah meski sekali waktu galak juga. Haha.

Dan hujan, ah dia selalu jadi teman yang penuh kejutan. Kau tahu, dia sering datang tiba-tiba dan mengguyurku dengan kesejukan yang membuat kusam wajahku luruh seketika, lalu dengan ceria mengajakku menari bersamanya. Menyenangkan sekali, dan itu semua adalah kebahagiaanku.

Bagaimana jika takdirmu bukan menjadi kembang matahari? Apakah kau tetap bahagia? Hei manusia, apapun bentuk diriku, aku tetap akan memiliki kebahagiaanku. Jikapun aku harus menjadi tanaman di padang pasir, kerikil sungai, bahkan debu yang melapisi jam dinding dan album-album foto kalian, aku pasti akan bahagia.

Setiap makhluk punya kebahagiaannya masing-masing. Jika kau belum menemukannya dengan menjadi dirimu, mungkin kau lupa bahagia itu sendiri. Tambah lagi, pernahkah kau berpikir bahwa bisa jadi kau adalah sebuah kebahagiaan bagi orang lain? Angin bertiup lamat-lamat. Aku dan si kembang matahari menatap matahari di depan kami yang semakin memerah. Cahayanya lembut menerpa wajah.

Mengejar Cintanya

"Ketika engkau sudah berada dijalan yang benar menuju Allah, maka berlarilah. Jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Jika itu pun tidak mampu, merangkaklah. Namun, jangan pernah berbalik arah atau berhenti. Itu kata Imam Syafi'i."

"Bagaimana jika aku di jalan menuju cintanya, bolehkah ku berbalik arah? Memutar? Mencari jalan lain? Aku bahkan tak yakin jika jalan ini yang harus kutempuh. Aku tak tahu jika jalan cintaku menujunya adalah benar. Terlalu banyak dan berat ujiannya. Lihatlah, bahkan kini aku kehilangan daya untuk menghentikan airmata yang tak bisa kutahan. Aku kacau sekali. Aku sudah berada di titik penghujung kemampuanku."

"Saat kau menempuh satu jalan menuju sesuatu, ujian itu Allah hadirkan dengan hikmah dua hal. Pertama, dia adalah pertanda bahwa apa yang kau tuju saat ini bukanlah yang terbaik buatmu. Allah ingin kau menghisab diri, menimbang, dan berputar haluan demi ikhtiar terbaik; kedua, sebagai pintu bahwa setelah segala kepayahan itu kau akan mencecap manisnya buah kesabaran. Semakin berat rintangan dan halangan yang kau dapatkan, semakin indah hal yang akan kau tuai. Jika sampai detik ini kau masih bertahan, berarti kau masih kuat menghadapinya. Kau justru lebih kuat dari ujian itu. Percayalah."

Kau

Kau adalah cahaya matahari senja yang menerpa wajah.

Kau adalah angin sepoi yang memainkan anak-anak rambut.

Kau adalah suapan terakhir masakan ibu.

Kau adalah rindu yang selalu basah.

Kau adalah semesta tempat 'amin'-ku tumpah ruah.

Kau adalah kebahagiaan yang kan selalu kukejar dan bersamamu aku tak ingin menamatkan kisah.

Biarkan Semuanya Mengalai Bagaikan Air

Aku percaya, setiap perkenalan, pertemanan, atau hubungan apapun itu pastilah awalnya manis, menyenangkan juga. Tapi seiring berjalannya waktu, saat satu per satu sifat asli kita muncul dan keasikan mulai luntur, pastilah hubungan itu menjadi hambar. Ada saja yang diributkan. Ketika itu terjadi, kita sudah harus siap --atau kita berharap itu tak akan terjadi.

Tapi kita jangan lupa bahwa perkenalan, pertemanan, atau hubungan apalah namanya, jika berjalan sama dari awal sampai kini tanpa ada suka duka, maka ia akan jadi tidak spesial. Seperti menaiki wahana roller coster, saat naik, turun, dan berputar, di situlah letak keseruannya. Juga kita harus ingat, hubungan-hubungan itu, selama kita merawatnya dengan baik, kita jaga, sekalipun ada pengganggu, pengrusak, atau hal-hal tak menyenangkan timbul, pasti dia akan bertahan, akan selamat. Bahkan ada di antara hubungan itu yang justru semakin menguat setelah pertikaian hebat.

Maka tak usah khawatir. Biarkan semua mengalir bagaikan air. Hingga nanti kita melihat hubungan kita telah samudera.

Cintamu dan Sebuah Perahu Kertas Bermuatan Doa

Mungkin kecintaanmu pada seseorang yang kau kagumi, segelisah tangkai mawar yang tersaput angin lalu, setabah tanah menadah dedaunan yang gugur pilu. Ia adalah sabar yang di segala musim bersemi.

Sedang samudera pinta yang luas telah diarungi, oleh perahu kertas bermuatan doa milikmu yang terus laju. Mengobati kalut perjalanan ke semenanjung harapan yang ia tuju. Hingga akhirnya ke dermaga hatinya ia kan menepi.

Tersenyumlah meskipun sering kali hati memaksamu berteduh, pada sebuah ingatan yang amat menggelisahkan. Tersebab prajurit langit yang selalu basah itu datang bergemuruh.

Barangkali aku telah menjelma mega jingga yang tersenyum menawan, yang mengantarkan perahu kertasmu terapung menjauh. Memasuki dermaga hatinya yang ditumbuhi cinta tanpa lawan.

Mengikhlaskan

Meski satu dua tetes air mata masih menggenang dan sempat jatuh, ia tak semenyesakkan saat kita memaksakan perasaan itu. Memaksa tetap bertahan padahal kita tahu bahwa harapan itu sungguh jauh panggang dari api. Memaksa bertahan sedangkan yang dialami adalah ketidakbahagiaan justru akan menyakiti diri sendiri.

Maka, tak ada yang lebih baik dan menenteramkan selain mengikhlaskan. Melepaskan segala bentuk keinginan memilikinya, merelakan harapan-harapan untuk hidup bersamanya tenggelam bersama hari ini yang takkan pernah terjamah lagi. Biarlah hati belajar untuk sabar menghadapi dan menerima kenyataan yang sudah lebih dulu tertulis dalam kitab kehidupan.

Cukup bersabar dan ikhlas. Biar suatu hari nanti takdir membawamu kepada hal yang membuatmu bersyukur atas apa yang kau lepaskan hari ini.

Pamit - Ar

Tak banyak yang kita perbincangkan. Hanya helaan napas kita sesekali terdengar panjang. Terasa berat. Yang banyak hanyalah jeda diantara kau yang berulangkali menanyakan jika semua sudah lengkap. Memastikan tak ada yang terlupa. Selebihnya diam.

"Obat?"
"Sudah."
"Tiket?"
"Aman."
"Kalau sudah sampai, jangan lupa kabari. Jangan bikin khawatir." Perhatian klasik yang tak pernah basi. Aku mengangguk sambil tersenyum.

Sejujurnya, ada banyak yang kuingin sampaikan termasuk hal yang bertele-tele semacam "aku akan merindukanmu" atau "baik-baik disini". Tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Maka kalimat-kalimat itu tertahan saja di hati. Sial. Aku selalu mati kutu di hadapanmu dan aku mengutuk diri untuk itu. Lemah!

Kau mengantarku hingga duduk di kursi penumpang. Dari dalam kereta, aku bisa melihat bening mata dan raut wajahmu yang tak mampu kuterjemahkan sebagai apa saat kulambaikan tangan lewat jendela. Sampai sebelum stasiun semakin menjauh dan terlihat mengecil hingga kemudian hilang di ujung pandang, aku masih melihatmu berdiri di sana. Tak berpaling.

Biarlah Semesta Memutuskan Jalan Terbaik Bagi Kita - Ar

Sepertinya cintaku padamu terlalu besar hingga sulit bagimu memikulnya. Tapi kau tak perlu khawatir, aku takkan lagi membebanimu dengan cintaku yg tumpah ruah itu. Mungkin kepergianku akan membuatmu bernafas lega.

Terimakasih untuk kesempatan merangkai kisah bersama, menyuarakan pikiran-pikiran kita lewat aksara-aksara yang indah. Semua itu adalah salah satu hal yang paling kusyukuri dalam hidup. Nasihat itu benar sekali. Cinta memang tak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Kenangan. Mimpi-mimpi. Masa depan. Semua berada dalam lingkaran takdir yang mesti kita jalani. Biarlah semesta memutuskan jalan terbaik bagi kita. Biarkan semua mengalir sesuai adanya.

Malam - Ar

Malam ini sajakku menjelma sebuah perahu. Muatan-muatan harap penuh sesak dibawa berlayar menuju samudera pinta: doa-doa terbaik untuk kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan yang tiada putus-putusnya. Buatmu.

Sebuah Pertemuan - Ar

Sebuah perkenalan tak pernah percuma. Ia senantiasa bernilai. Meski pertemuan butuh waktu jutaan tahun cahaya untuk menyatukan tatap kita.

Menjadi teman tanpa temu sungguh mudah, bukan? Tapi, hei, siapa yang dapat melepaskan dengan cepat? Lihat saja hujan yang berderai di luar sana. Bukankah langit menjadi mendung dulu sebelum awan-awan itu berubah ke lain bentuk dan jatuh ke bumi?

Maka waktu yang kubutuhkan untuk melepas semuanya--mimpi-mimpi dan harapan itu--adalah tak hingga. Aku berusaha lari darimu. Namun kenyataan membawaku kembali. Selalu.

Aku ingin mencintaimu seperti ini saja; puisiku yang ragu-ragu menampakkan diri sedang maknanya melesak kesana-kemari. Tentang kamu.

AR

Kan kurawat anak-anak sajak yang kau lahirkan untukku sampai mereka tumbuh menjadi kumpulan halaman di kalbu.

Aku mencintaimu selayak puisi. Sebab di dadamu, aku bisa jadi apa saja: laut, langit, hujan, daun.

Pada dasarnya, tak ada yang bisa dipaksa-memaksa. Seperti hujan yang turun tanpa bisa ditahan, kala kata-kata basah  dibasuh air mataku dan renjana mengumpul sesak di kalbu.

Puisiku belum menemukan jalan pulang meski ia tidak tersesat di penantian.

Rinduku ialah lerai aroma padi dan rerumputan yang sering kau hirup, ia adalah gigil yang diturunkan kabut tipis di hijau persawahan, di rindang pohon-pohon dan di lebat hutan-hutan. Kau mungkin tak kan pernah mengerti sampai angin mengecupkannya ke bibirmu.

Bahkan langit pun mengerti bahwa rinduku tak dapat dibendung oleh hati. Ia menumpahkannya selayak mata air yang mengalir deras dari telaga surgawi.

Hatimu adalah samudera tempat aku menyimpan rahasia paling rahasia. Kau semesta tempat aku hidup dan bersamaan.

Aku akan setia merawat mimpi dan harapan sambil dengan sabar memekarkan persahabatan.

Kita adalah dua beda pada kenyataan yang lain. Maka biarlah aku menjelma hikayat paling sunyi didadamu.

Aksara bergetar di ujung penaku berdegup menanti kepulanganmu.

Berharap adalah kebiasaan yang tak bisa dihilangkan. Lapangkanlah dadamu selayak kembang teratai yang membuka kelopaknya lebar-lebar. Biar hatimu dan hatiku berharap sekali lagi.

Bagaimana kita menangguh luka sedang ingatan tentang kepedihan lama masih saja menganga. Mari saling sembuh !

Pada akhirnya, serbuk sari kan mengecup kepala putik sebelum ia rela gugur demi kasih yang kan tersemai. Semoga itu cukup untuk membuktikan seluruh cintanya: "Aku tak benar-benar pergi, hanya bertumbuh menjadi abadi."

Pada suatu waktu bawalah aku ke tempat dimana kakiku menyentuh bumi sedang tanganku menggapai langit.

Belum ada Komentar untuk "Kumpulan Puisi Kebijaksanaan Tentang Cinta & Rindu"

Posting Komentar

Terimakasih telah membaca artikel ini, semoga bermamfaat. Komentar yang membangun dan bersifat positif sangat diharapkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel